• 0225928143

  • smansatuciwidey@gmail.com

Disdik Jabar Evaluasi USBN

INILAH, Bandung - Kebocoran kunci jawaban Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN) terjadi di Indramayu, Jawa Barat. Hal ini berdasarkan laporan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) yang mengatakan kebocoran terjadi diduga dilakukan oknum bimbingan belajar (bimbel) berinisial Q dan IS.
 
Meski demikian, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat mengaku belum menerima laporan terjadinya kebocoran USBN yang ditenggarai dilakukan dengan modus siswa urunan membeli kunci jawaban yang terdiri dari enam paket dan seharga Rp 10 juta.
 
Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Firman Adam mengatakan, pihaknya yakin situasi pelaksanaan USBN di Jabar cenderung kondusif. Namun bukan berarti pihaknya hanya tinggal diam walaupun belum ada laporan kecurangan yang masuk ke loker mejanya.
 
"Kami akan melakukan evaluasi pelaksanaan USBN. Jika ada kekurangan dan kelemahan, akan kami lakukan penyempurnaan untuk pengelolaan evaluasi pembelajaran yang lebih baik di Jawa Barat," kata Firman kepada INILAH dihubungi melalui pesan singkat, Selasa (28/3).
 
Sekretaris Jenderal FSGI Retno Listiani di sisi lain mengatakan, pihaknya sudah memberikan laporan dugaan kebocoran USBN yang dilakukan Bimbel kepada Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
 
Dia meminta pihak kementerian untuk menjadikannya sebagai bahan evaluasi pelaksanaan USBN ke depannya tanpa harus menindaklanjuti siswa-siswa yang terlibat dalam praktik pembelian kunci jawaban tersebut.
 
"Sebab, belajar dari kasus kebocoran Ujian Nasional yang lalu, kalau ada penindakan nanti yang jadi terdakwa adalah siswa. Padahal mereka juga kan korban dari sistem yang dibuat pemerintah," kata Retno.
 
Mantan Kepala Sekolah SMAN 13 Jakarta yang pernah berseteru dengan Basuki Tjahaja Purnama ini juga meminta pemerintah untuk menyisir alur kebocoran tersebut. Sebab menurutnya celah terbesar untuk dimanfaatkan oknum adalah ketika soal dan kunci jawaban didistribusikan ke sekolah-sekolah.
 
Dia menjelaskan, kecil sekali kemungkinan guru yang bertindak membocorkan soal dan kunci jawaban USBN. Sebab meski guru yang menyusunnya, tetapi rupanya masih disortir lagi untuk kemudian disatukan dengan materi lainnya dari guru yang berbeda.
 
"Misalnya satu guru ditugasi membuat tujuh soal, tetapi yang dipakai ternyata hanya satu. Bagaimana kami mau membocodkan, wong soal yang kami buat ternyata hanya satu yang muncul," kata Retno.
 
Setelah susunan soal rampung, kemudian hasil akhirnya akan dibawa ke Dinas Pendidikan untuk selanjutnya disebarkan kepada sekolah-sekolah berdasarkan rayon. Di titik inilah yang menurut Retno yang harus diawasi betul dan dievaluasi menyeluruh.
 

"Kami curiganya di sini atau bisa jadi juga ketika soal sampai di tangan kepala sekolah. Itu juga ada peluang untuk dilipatgandakan. Siapapun bisa mulai dari sekolah atau Disdik. Banyak kemungkinan," ujar Retno.

Bagikan :

Komentar

Tambah Komentar (0)

Batal

Balas Komentar

Komentar Berhasil diterbitkan
Komentar tidak dapat diterbitkan Silakan coba lagi..!
Alamat email yang anda masukkan salah..!
Alamat web yang anda masukkan salah..!
Kode Captcha yang anda masukkan salah...!
Bidang tidak boleh ada yang kosong....!